Setiap orang yang pernah menapaki dunia digital pasti punya kisah unik tentang karya pertamanya. Bagi saya, cerita tentang website pertama selalu terasa seperti nostalgia perpaduan antara kebanggaan, rasa malu, dan pelajaran berharga. Website itu sederhana, penuh kekurangan, namun justru di situlah awal perjalanan saya mengenal dunia internet lebih dalam.
Awal Rasa Penasaran
Semuanya berawal dari rasa penasaran. Saat itu, saya sering mengunjungi berbagai situs yang tampilannya keren dan informatif. Saya bertanya-tanya, bagaimana orang bisa membuat halaman semacam itu? Apa mungkin saya, yang tidak punya latar belakang teknologi, bisa melakukannya? Rasa penasaran inilah yang akhirnya mendorong saya untuk mencoba.
Saya mulai mencari tahu tentang HTML dan CSS melalui artikel dan video gratis di internet. Kode-kode yang awalnya tampak menakutkan perlahan mulai masuk akal. Hanya dengan beberapa baris, saya bisa membuat teks berwarna, menambahkan gambar, bahkan membuat tautan. Sensasi saat pertama kali melihat hasil kode tampil di layar benar-benar tak tergantikan.
Proses Membuat Website
Website pertama saya sangat sederhana. Temanya adalah blog pribadi tempat saya menuliskan pengalaman sehari-hari dan hobi. Halaman utamanya hanya berisi ucapan selamat datang dengan latar belakang warna biru cerah yang, kalau saya lihat sekarang, mungkin agak menyilaukan mata.
Saya membuat beberapa halaman tambahan: tentang saya, galeri foto, dan halaman kontak. Semua saya kerjakan dengan susah payah menggunakan kode manual. Tidak ada template modern atau builder instan seperti sekarang. Jika ingin mengubah warna tombol, saya harus mencari baris kode CSS tertentu dan mengeditnya secara langsung.
Meski tampilan website itu jauh dari kata profesional, ada rasa bangga luar biasa. Saya merasa berhasil membangun “rumah digital” sendiri, meski hanya berdinding HTML dan CSS seadanya.
Tantangan yang Dihadapi
Tentu saja, perjalanan itu tidak mulus. Ada banyak momen frustasi, seperti ketika saya salah menutup tag sehingga seluruh halaman jadi berantakan. Pernah juga saya mengunggah file ke hosting gratis, tapi lupa menamai folder dengan benar, alhasil website saya hanya menampilkan pesan error.
Selain teknis, tantangan lain adalah konsistensi. Saya sempat rajin menulis artikel di blog itu, tetapi setelah beberapa minggu, semangat mulai menurun. Ide menulis terasa buntu, sementara pengunjung hampir tidak ada. Saat melihat statistik yang kosong, saya sempat berpikir: “Apa website ini memang tidak ada gunanya?”
Namun, justru dari kesulitan itu saya belajar arti sebenarnya dari komitmen. Saya mulai memahami bahwa membangun website bukan hanya soal desain atau teknologi, tetapi juga soal bagaimana merawatnya dengan konsisten.
Momen yang Membanggakan
Meski pengunjung awalnya sangat sedikit, saya masih ingat betul momen ketika seseorang yang tidak saya kenal meninggalkan komentar di salah satu artikel. Hanya sebuah kalimat sederhana: “Tulisan yang bagus, terima kasih sudah berbagi.” Namun, komentar itu memberi saya semangat baru. Rasanya seperti ada orang asing yang mengetuk pintu rumah dan berkata, “Hei, rumahmu bagus juga.”
Momen itu membuat saya sadar bahwa website bisa menjadi jembatan. Dari layar komputer di kamar saya, tulisan-tulisan sederhana bisa menjangkau orang lain di tempat yang jauh. Itulah momen ketika saya mulai benar-benar jatuh cinta pada dunia digital.
Pelajaran Berharga
Dari website pertama itu, saya mendapatkan banyak pelajaran yang masih saya pegang sampai sekarang:
- Mulai dari yang sederhana. Tidak perlu menunggu sempurna untuk memulai. Website pertama saya jauh dari ideal, tapi justru itu yang membuat saya belajar.
- Kesalahan adalah guru terbaik. Setiap error, setiap tampilan berantakan, selalu membawa saya pada pemahaman baru.
- Konsistensi lebih penting daripada hasil instan. Website hanya akan berkembang jika dirawat terus-menerus, sama seperti tanaman yang butuh disiram.
- Koneksi manusia adalah inti dari internet. Satu komentar dari pengunjung lebih berharga daripada desain mewah tanpa interaksi.
Melihat ke Belakang
Kini, ketika saya melihat website itu lagi (yang masih tersimpan di arsip hosting lama), saya hanya bisa tersenyum. Tampilan norak, tata letak berantakan, dan konten yang polos sekali. Tapi di balik semua itu, ada kenangan berharga tentang langkah pertama saya di dunia digital.
Website pertama memang jarang sempurna, tapi justru di situlah letak keindahannya. Ia adalah cermin dari semangat awal, keberanian mencoba, dan kesediaan untuk belajar dari nol.
Penutup
Cerita tentang website pertama saya adalah cerita tentang perjalanan kecil yang membuka pintu besar. Dari sekadar rasa penasaran, saya menemukan minat baru, keterampilan baru, dan bahkan arah karier yang tak pernah saya duga sebelumnya.
Bagi saya, website pertama itu bukan sekadar kumpulan kode dan halaman. Ia adalah simbol dari keberanian untuk mencoba, meski dengan segala keterbatasan. Dan setiap kali saya membangun website baru yang lebih modern, saya selalu mengingat kembali website pertama itu sebagai pengingat bahwa semua hal besar selalu berawal dari langkah kecil.


