Website bukan hanya wajah digital sebuah bisnis atau organisasi, tetapi juga aset penting yang menyimpan data berharga, baik milik perusahaan maupun pengguna. Sayangnya, perkembangan teknologi yang pesat juga diikuti dengan meningkatnya ancaman siber. Serangan terhadap website bisa merugikan, mulai dari kehilangan kepercayaan pelanggan, pencurian data, hingga kerugian finansial.
Agar lebih siap menghadapi risiko, penting bagi setiap pemilik website untuk mengetahui ancaman keamanan yang paling sering terjadi. Berikut adalah 10 ancaman keamanan website yang wajib diwaspadai.
1. SQL Injection
SQL Injection adalah salah satu bentuk serangan paling umum. Penyerang menyisipkan kode berbahaya ke dalam query database melalui form input atau URL. Jika berhasil, mereka bisa mengakses, mengubah, bahkan menghapus data sensitif.
Pencegahan: gunakan query parameterized, validasi input pengguna, dan batasi hak akses database.
2. Cross-Site Scripting (XSS)
XSS terjadi ketika penyerang menyuntikkan skrip berbahaya ke halaman website. Skrip ini dapat mencuri cookie, informasi login, atau mengalihkan pengguna ke situs palsu.
Pencegahan: lakukan escaping pada input pengguna dan gunakan mekanisme content security policy (CSP).
3. Cross-Site Request Forgery (CSRF)
CSRF memanfaatkan identitas pengguna yang sedang login untuk melakukan aksi tanpa sepengetahuan mereka, misalnya mengubah pengaturan akun atau melakukan transaksi.
Pencegahan: gunakan token unik pada setiap permintaan (CSRF token) dan periksa referer header.
4. Serangan DDoS (Distributed Denial of Service)
Serangan ini bertujuan membanjiri server dengan permintaan palsu dalam jumlah besar sehingga website menjadi lambat atau tidak dapat diakses sama sekali.
Pencegahan: gunakan firewall aplikasi web, sistem deteksi lalu lintas mencurigakan, dan batasi jumlah permintaan per detik.
5. Malware Injection
Penyerang dapat menyisipkan malware ke dalam file atau skrip website. Malware ini bisa mencuri data, menampilkan iklan ilegal, hingga menyebar ke pengunjung.
Pencegahan: lakukan pembaruan sistem secara rutin, gunakan pemindaian keamanan, dan pantau integritas file website.
6. Brute Force Attack
Serangan brute force dilakukan dengan mencoba kombinasi username dan password secara berulang hingga berhasil. Target utamanya adalah halaman login administrator.
Pencegahan: terapkan kebijakan password kuat, batasi jumlah percobaan login, dan gunakan autentikasi dua faktor (2FA).
7. Man-in-the-Middle (MitM) Attack
Dalam serangan ini, penyerang menyusup di antara komunikasi pengguna dan website untuk mencuri data, misalnya saat pengguna memasukkan informasi kartu kredit.
Pencegahan: gunakan enkripsi HTTPS dengan sertifikat SSL/TLS dan hindari jaringan publik yang tidak aman.
8. Deface Website
Website defacement adalah serangan yang mengubah tampilan situs, biasanya untuk menyampaikan pesan tertentu atau mempermalukan pemilik website. Meskipun terlihat sederhana, hal ini bisa merusak reputasi dan menurunkan kepercayaan.
Pencegahan: pastikan sistem dan plugin selalu diperbarui, gunakan sandi yang kuat, serta batasi akses admin hanya pada pihak tepercaya.
9. Phishing melalui Website Palsu
Penyerang sering membuat tiruan website asli untuk menipu pengguna agar memasukkan data sensitif seperti email dan kata sandi. Jika website Anda disusupi dan diarahkan ke situs phishing, kepercayaan pengguna bisa hilang seketika.
Pencegahan: gunakan keamanan domain seperti DNSSEC, perkuat otentikasi email, dan edukasi pengguna mengenai ciri-ciri website palsu.
10. Kerentanan Plugin atau Tema
Banyak website menggunakan plugin atau tema dari pihak ketiga. Jika tidak diperbarui, celah keamanan pada plugin atau tema bisa dimanfaatkan peretas untuk mengambil alih website.
Pencegahan: unduh plugin/tema hanya dari sumber resmi, lakukan pembaruan berkala, dan hapus plugin yang tidak digunakan.
Dampak Jika Website Tidak Aman
Mengabaikan keamanan website bisa menimbulkan dampak serius, antara lain:
- Kehilangan data sensitif milik pengguna atau perusahaan.
- Reputasi rusak karena pengguna tidak lagi percaya.
- Kerugian finansial akibat pencurian data atau downtime.
- Sanksi hukum jika terbukti lalai menjaga keamanan data pelanggan.
Oleh karena itu, memahami ancaman dan melakukan pencegahan adalah langkah wajib, bukan sekadar tambahan.
Kesimpulan
Website yang aman bukan hanya soal menjaga tampilan tetap stabil, tetapi juga melindungi data, reputasi, dan kepercayaan pengguna. Sepuluh ancaman yang dibahas—mulai dari SQL Injection, XSS, hingga kerentanan pluginadalah ancaman nyata yang harus diwaspadai setiap pemilik website.
Dengan langkah pencegahan yang tepat, seperti pembaruan rutin, penggunaan enkripsi, validasi input, serta pengelolaan akses yang ketat, risiko serangan bisa diminimalkan. Ingat, dalam dunia digital, keamanan bukan pilihan, melainkan kebutuhan utama.


