Membeli domain adalah salah satu langkah awal yang paling penting ketika membangun website. Domain bukan sekadar alamat situs, melainkan juga identitas digital yang akan mewakili bisnis, brand, atau personal branding Anda di dunia online. Namun, banyak orang sering melakukan kesalahan saat membeli domain, yang bisa berdampak pada kredibilitas, biaya tambahan, hingga hilangnya peluang branding. Agar tidak terjebak pada kesalahan yang sama, berikut adalah 10 kesalahan umum saat membeli domain dan bagaimana cara menghindarinya.
1. Memilih Nama Domain yang Terlalu Panjang
Nama domain yang panjang cenderung sulit diingat dan rentan salah ketik. Misalnya, tokoonlinefashionmurahbanget.com jelas tidak praktis. Sebaiknya pilih nama yang singkat, jelas, dan mudah diketik agar audiens lebih cepat mengingatnya.
2. Tidak Memperhatikan Ekstensi Domain
Banyak orang hanya fokus pada nama domain tanpa memikirkan ekstensi. Padahal, ekstensi seperti .com, .id, atau .net dapat memengaruhi kredibilitas dan target audiens. Jika Anda menargetkan pasar global, .com adalah pilihan terbaik. Untuk bisnis lokal, ekstensi .id bisa lebih relevan.
3. Menggunakan Angka dan Tanda Hubung
Angka dan tanda hubung sering membuat domain membingungkan. Misalnya, apakah harus diketik tiga atau 3? Apakah domain menggunakan tanda hubung atau tidak? Kesalahan ini bisa mengurangi profesionalitas dan membingungkan audiens.
4. Tidak Memikirkan Branding Jangka Panjang
Banyak pemilik website hanya berpikir jangka pendek saat membeli domain. Akibatnya, mereka memilih nama yang terlalu spesifik atau musiman. Misalnya, promo2025.com hanya relevan dalam waktu singkat. Pilih nama domain yang fleksibel dan bisa digunakan dalam jangka panjang.
5. Mengabaikan Hak Cipta dan Merek Dagang
Kesalahan serius adalah membeli domain yang ternyata sudah terdaftar sebagai merek dagang orang lain. Selain berpotensi terkena masalah hukum, domain tersebut bisa dipaksa dicabut. Pastikan Anda melakukan riset terlebih dahulu sebelum membeli domain.
6. Tidak Mengecek Riwayat Domain
Ada domain yang sebelumnya pernah digunakan oleh orang lain. Jika domain tersebut pernah dipakai untuk aktivitas spam, penipuan, atau konten negatif, reputasi domain bisa memengaruhi peringkat SEO. Gunakan tools seperti Wayback Machine atau WHOIS untuk mengecek riwayat domain sebelum membelinya.
7. Terlalu Banyak Mengandalkan Kata Kunci
Menggunakan kata kunci memang bagus untuk SEO, tetapi jika terlalu dipaksakan, nama domain bisa terdengar kaku. Misalnya, jualsepatuolahragamurahsekali.com jelas tidak efektif. Lebih baik seimbangkan antara kata kunci dan brand identity agar domain tetap profesional.
8. Tidak Membeli Variasi Domain
Banyak bisnis hanya membeli satu ekstensi domain dan mengabaikan variasi lainnya. Akibatnya, kompetitor atau pihak lain bisa membeli ekstensi lain dan memanfaatkannya. Untuk melindungi brand, sebaiknya amankan beberapa ekstensi sekaligus, seperti .com, .net, atau .id.
9. Mengabaikan Ketersediaan di Media Sosial
Nama domain sebaiknya konsisten dengan nama akun media sosial Anda. Jika domain tersedia tetapi username media sosial tidak, hal ini bisa membingungkan audiens. Sebelum membeli domain, cek juga ketersediaan nama di platform media sosial utama.
10. Tidak Membeli untuk Jangka Panjang
Banyak orang membeli domain hanya untuk satu tahun. Padahal, memperpanjang domain setiap tahun bisa menimbulkan risiko lupa perpanjangan atau kehilangan domain karena direbut pihak lain. Membeli domain untuk jangka panjang (misalnya 3–5 tahun) lebih aman dan biasanya lebih hemat.
Kesimpulan
Membeli domain bukan hanya soal menemukan nama yang tersedia, melainkan juga strategi jangka panjang untuk membangun identitas digital yang kuat. Dengan menghindari kesalahan-kesalahan umum di atas—seperti memilih nama yang panjang, tidak memikirkan branding, hingga lupa mengecek riwayat domain—Anda bisa memastikan domain yang dipilih benar-benar mendukung kesuksesan online. Ingat, domain adalah investasi jangka panjang yang akan merepresentasikan brand Anda di dunia maya.


